Friday, July 31, 2015

Happy birthday fay

Sabtu 11 desember, Jarum jam menunjukkan tepat pukul 11 malam, tapi belum juga ku lihat tanda kehadiran Fay dan Nabil, padahal pada waktu itu aku, tante Lina dan Om Indra sedang menyiapkan pesta kejutan ulang tahun untuk sahabataku, persiapan waktu itu pun sudah bisa dibilang beres hanya tinggal menunggu kedatangan Fay.

“keyla coba kamu telfon Fay dan Nabil, kemana mereka hingga selarut ini” suara tante Lina mengagetakan ku
“Sudahlah Ma, mungakin mereka masih di jalan, atau mungakin sedang asyik merayakan berdua. Kita tunggu saja” Sahut Om Indra yang coba menenangakan tante Lina

Jarum jam terus bergulir hingga tak kami sadari waktu berganti menjadi pukul 1 dini hari, perasaan kami pun semakin tak karuan karena nomor telfon Fay dan Nabil sama sekali tak bisa dihubungi, perasaan resah gelisah terus menghantui kami berbagai dugaan buruk pun tak henti-hentinya melintas bergantian di otak kami “Tuhan, kemana Fay kenapa belum pulang juga” Bisik ku dalam hati

Selang beberapa menit terdengar suara ketukan dari arah pintu, kami pun sedikit agak tenang, karena kami fikir itu adalah Fay dan Nabil yang datang.
Segera ku langakahkan kaki ku menuju arah pintu setelah ku buka pintu Rumah ternyata bukan Fay dan Nabil yang ada di hadapan ku, melainkan dua orang laki laki yang berseragam Polisi
“Selamat malam, apa benar ini kediaman saudara Fanesya angelina putri?” tanya seorang polisi
“iya benar pak, saya mamanya. kenapa dengan putri saya pak?” tanya tante Lina penasaran
“Begini bu, Putri ibu mengalami kecelakaan tunggal bersama seorang laki laki yang bernama nabil, motor yang mereka kendarai menabrak pembatas jalan”
“iya benar, dan naasnya sodara fanesya meninggal seketika di tempat kejadian dan sodara nabil sekarang kondisinya kritis. Jenazah sodara fanesya ada di rumah sakit” sahut seorang polisi

Setelah Mendengar penjelasan dari dua orang polisi itu air mata ku membanjiri pipi, tubuh ini mendadak lemas bagai tak bertulang, tak percaya memang, Rasanya baru tadi pagi masih tertawa bersama kami.
Om indra dan tante Lina pun menangis histeris hingga sempat berulang kali tante lina berteriak menyebutakan nama Fay kemudian jatuh pingsan.
“Tuhan, kenapa harus Fay? kenapa Tuhan?” teriak ku dalam hati

Kami pun segera bergegas ke rumah sakit, melihat jenazah Fay terbaring lemas, air mata ku pun tak dapat lagi ku bendung, kubelai rambutnya, ku elus pipinya hingga ku guncang guncang bahunya hanya untuk mencoba membangunkannya, aku tau hal itu percuma tapi aku masih belum percaya kalau Fay pergi secepat ini

Keesokan harinya Fay dimakamkan, aku tak sanggup ketika ku lihat tubuhnya dibaringakan di atas tanah makam, air matalah yang terus mengiringi kepergian sahabataku, tapi aku harus ikhlas melepas Fay, mungakin ini kebahagiaan buat Fay. Ya aku harus bisa melepas sosok manis Fay

Setelah acara pemakaman selesai aku kembali ke rumah Om indra untuk menyiapkan acara tahlilan malam harinya.
tubuhku terasa lelah, hingga ku rebahkan tubuhku di kamar fay, kupandangi foto fay yang tertempel manis di dinding kamarnya, air mata ku pun kembali membanjiri pipi, mengingat sosok manis sahabataku.
Hari ini harusnya menjadi hari bahagia untuk nya, karena hari ini 12 desember adalah hari kelahirannya, usianya tepat 20 tahun. Tapi Tuhan berkata lain untuknya

Selang 2 minggu setelah kematian fay aku baru sempet melihat nabil yang masih ada di rumah sakit, entahlah apa yang harus aku katakan ketika nabil menanyakan fay
“hay bil, kamu apa kabar?”
“alhamdulillah key, besok udah boleh pulang” jawab nabil
“oh iya key, fay mana kok gak ikut?” lanjutnya
“Fay lagi istirahat, udah kamu tenang aja” jawabku yang coba untuk menenangakan nabil.
“syukurlah kalo fay tidak apa apa, karena kalo sampai fay kenapa kenapa aku gak bisa maafkan diri ku sendiri”
kata kata nabil benar benar mengingatakan ku kembali akan fay.

Keesokan harinya entah dari mana nabil mendengar kabar kematian fay, awalnya memang tak percaya tapi itulah kenyataannya. Setelah menelfon ku, nabil mengajakku pergi ke tempat dimana fay beristirahat untuk selamanya.

Melihat nama FANESYA ANGELIA PUTRI yang tertulis di batu nisan, air mata nabil pun pecah, aku yang berada di sampingnya hanya mampu menguatakan dengan kata kata, meski sebenarnya aku pun masih rapuh.
“Fay, kenapaa kamu pergi ninggalin aku sayang, maafin aku fay, kalau seandainya malam itu aku tidak emosi dan marah marah pasti kecelakaan ini gak akan terjadi” teriak nabil
“udah bil, udah, semua sudah terjadi ikhlasin fay, biarkan dia tenang disana” suara ku yang coba untuk menenangakan nabil.
“maafin aku sayang, Happy birthday semoga kamu tenang di alam sana, aku akan selalu mencintai mu fay”

Kulihat penyesalan yang amat dalam pada nabil, tapi takdir berkata lain, Tuhan lebih mencintai fay

Dengan langakah gontai, ku tinggalkan makam fay sesekali ku lihat ke arahnya, berat memang tapi aku harus ikhlas demi kebahagiaan fay.
“HAPPY BIRTH DAY FAY, HAPPY BIRTH DAY SAHABAtakU” bisik ku dalam hati

Cerpen Karangan: Wiji Astutik
Facebook: Wiji Astutik

Related Posts

Happy birthday fay
4/ 5
Oleh

Subscribe via email

Like the post above? Please subscribe to the latest posts directly via email.